DSC_1144-removebg-preview

Tri Maruto Aji, S.P., M.Sc.



Kepakaran : Fitopatologi, Virologi Tanaman, Pengendalian Hayati, Bioteknologi

Bidang/Bagian : Penelitian / Proteksi Tanaman

Kualifikasi : S1 (Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan)

Kualifikasi : S2 (Fitopatologi)

Kualifikasi : S3 (On going – Ilmu Pertanian)

Semboyan : Gadjah boleh tinggalkan Gading, Harimau Boleh Wariskan Belang, Tapi Peneliti Tanpa Inovasi dan Solusi, bukanlah Peneliti tetapi Jurnalis.

Id Google scholar V93ZhB0AAAAJ

SINTA ID : 6650503

Bekerja dalam ilmu terkait fitopatologi adalah core utama dari latar belakang keilmuwannya. Baik jenjang Sarjana, Master Degree dan On going Doktoral-nya saat ini tetap konsisten menekuni penyakit-penyakit virus baru pada tanaman pertanian dan perkebunan. Ilmu mengenai proteksi tanaman sudah tentu merupakan bidang keahliannya. Seandainya ada gelar dokter untuk tanaman, beliau adalah salah satu dokter tanaman yang memiliki spesialisasi dan kompetensi dalam hal penyakit virus pada tanaman. Sebagaimana halnya dokter, banyak hal keilmuwan yang beliau berikan kepada masyarakat secara langsung sebagai bentuk problem solver, dan memang sulit menemukan tulisan-tulisan beliau dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah (KTI), karena kesibukannya dalam mengentaskan permasalahan langsung di lapangan.

Terobosan inovasi beliau tahun 2017 lalu saat membantu seniornya dalam memproduksi agensia hanyati pengendali hama tanaman telah memperoleh penghargaan Sebagai inventor bioreaktor pemberantas hama, dari Bursa Inovation Center (BIC) dengan masuknya inovasi tersebut pada 109 Inovasi Indonesia 2017. Kiprahnya dalam dunia fitopatologi tidak diragukan lagi. Di Indonesia, beliau adalah orang pertama yang berhasil memodifikasi teknik diagnosis virus yang memiliki bentuk dasar asam nukleat berupa RNA. Teknik isolasi double stranded RNA (dsRNA) berhasil beliau kembangkan pada tahun 2008 lalu pada tanaman Solanaceae. Perlu diketahui, dsRNA adalah pintu masuk untuk pengembangan RNAi, RNA silencing, RNA therapeutic dan seterusnya yang di negara maju saat itu digunakan sebagai tahapan dalam pembuatan vaksin, terapi penyakit dan lain sebagainya. Inovasi tersebut membawanya pada suatu undangan kehormatan untuk diberangkatkan ke Jepang dalam rangka Ibaraki Sustainability Meetings : Workshop on Asian Agriculture and Sustainable Society and International Symposium on Agricultural Innovation toward Bio-fuel Based Society.

Dalam dunia perkebunan, beliau adalah penemu virus kerupuk yang merusak dan mewabah pada tanaman tembakau cerutu di PTPN X (persero) daerah Klaten 2011 lalu yang kemudian diketahui bernama TYLCV-Kan 1 (Tomato Yellow Leaf Curl Virus, Kanchanaburi-1). Beliau berinovasi di PTPN X saat itu dengan melakukan pengendalian virus melalui mekanisme Plant Barrier System sehingga lebih ramah lingkungan. Alhasil, inovasinya berhasil membantu mengendalikan wabah virus kerupuk pada tembakau cerutu yang sangat mahal harganya.

Saat ini beliau bekerja sebagai salah satu peneliti di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung, Jawa Barat. Sumbangsihnya dalam keilmuwan bidang proteksi tanaman sejak menjadi peneliti pada tahun 2013 hingga saat ini adalah, sebagai inventor bioreaktor pemberantas hama, inventor bio-fogger, inventor continue batch fermentor untuk mengubah gulma menjadi biopestisida. Beliau aktif sebagai konsultan dan melakukan pengawalan di PTPN pada komoditas teh sejak 2014-2017. Beliau juga aktif dalam organisasi profesi seperti Perhimpunan Fitopatologi Indonesia (PFI) dan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI).  Tidak heran jika sejak 2017-2020 beliau bekerjasama dengan Telkom University mendesain Early Warning System (EWS) untuk Pengendalian Terpadu OPT pada perkebunan teh dan pembuatan Automatic Weather Station (AWS) atau dikenal dengan stasiun cuaca digital.

Sejak 2018 hingga saat ini beliau sedang melanjutkan studi S3 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Beliau merupakan ispirator bagi rekan-rekannya sesama peneliti di Gambung sebagai contoh dalam hal pengembangan matcha pada tahun 2016 lalu beliau memberikan terobosan dengan membuatkan prototipe Matcha grinder tradisional yang masih sangat sulit bahkan tidak ada di Indonesia